Pimpinan Suku Anak Dalam Akui Selamatkan Balita Bilqis dari Sindikat Penculikan, Ungkap Kronologi dan Alasan Penebusan

By Arazone 5 Min Read

Bisiknews.com, Makassar – Kasus dugaan penculikan anak yang melibatkan balita bernama Bilqis asal Makassar, Sulawesi Selatan, memasuki babak baru setelah pengakuan dari pimpinan Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba.

Pimpinan kelompok adat tersebut menyebut bahwa pihaknya justru berupaya menyelamatkan Bilqis dari jaringan penculikan setelah menerima informasi bahwa anak tersebut terlantar dan tidak memiliki keluarga. Pernyataan ini menjadi perhatian publik dan meningkatkan pencarian terkait kata kunci kasus Bilqis, Suku Anak Dalam, dan dugaan penculikan anak.

Dalam laporan yang berkembang, SAD disebut merawat Bilqis setelah seorang perempuan datang membawa cerita yang kemudian diketahui tidak benar. Keputusan kelompok SAD untuk menebus Bilqis dengan uang puluhan juta rupiah dilakukan atas dasar iba, karena mereka percaya penjelasan bahwa anak tersebut ditinggalkan keluarganya.

Situasi ini menunjukkan bagaimana rentannya masyarakat adat terhadap penipuan yang memanfaatkan keterbatasan literasi dan akses informasi. Fakta bahwa uang tebusan dikumpulkan dari hasil kebun dan pekerjaan harian membuat kasus ini semakin menyita perhatian publik.

Pengakuan pimpinan SAD, Joni, kembali menegaskan bahwa kelompok adat tersebut merasa telah melakukan tindakan kemanusiaan. Mereka tidak mengetahui bahwa perempuan yang membawa Bilqis diduga terlibat dalam sindikat penculikan.

Dalam konteks pemberitaan, kasus ini mencuatkan kekhawatiran publik terhadap modus baru penculikan anak yang menyasar komunitas rentan. Pihak kepolisian disebut masih menelusuri keterlibatan para pelaku dan informasi yang beredar.

Pengakuan SAD: “Niatnyo Menolong dan Kasihan”

Pimpinan SAD, yang dikenal dengan gelar Mata Tumenggung, Joni, menyampaikan bahwa niat mereka menerima Bilqis murni karena iba terhadap kondisi anak tersebut.

“Niatnyo menolong dan kasihan dengan anak itu,” kata Joni, seperti dikutip dari detikSumbagsel, Kamis (13/11/2025).

Bilqis pertama kali dibawa oleh seorang perempuan bernama Merry Ana (42) ke pasangan Begendang dan Nerikai dari kelompok Tumenggung Sikar. Merry mengaku bahwa anak tersebut tidak memiliki keluarga dan berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Menurut Joni, Merry menyampaikan bahwa Bilqis adalah anak terlantar yang membutuhkan pengasuhan. SAD yang tidak terbiasa membaca dokumen tertulis mempercayai keterangan tersebut tanpa curiga.

“Anak ini anak terlantar tidak diurus, karena anak ini dari keluargo tidak mampu,” ujar Joni menirukan ucapan Merry.

Modus Kertas Pernyataan dan Kepercayaan SAD

Merry tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa secarik kertas pernyataan yang seolah-olah berasal dari orang tua Bilqis. Naskah itu menyatakan bahwa anak tersebut dititipkan kepada SAD untuk dirawat.

Namun, karena anggota SAD tidak bisa membaca, mereka menerima kertas tersebut begitu saja.

“Kami anak dalam ini kan tidak bisa baca, jadi percayo bae,” kata Joni.

Kepercayaan ini dimanfaatkan oleh pelaku untuk meminta sejumlah uang dengan alasan biaya perawatan anak selama ini.

Penebusan Rp 85 Juta Demi Merawat Bilqis

Setelah menyerahkan Bilqis kepada Begendang dan Nerikai, Merry meminta uang sebesar Rp 85 juta sebagai pengganti biaya perawatan yang ia klaim telah dikeluarkan selama merawat balita tersebut.

Menurut Joni, pelaku menyampaikan:

“Jadi kami la lamo ngurus Bilqis ini, kalo bapak niat ngurus ini kami la banyak habis mengurusnyo. Kami jugo la berat jugo, daripado terlantar kalo ado yang mau ngurus biaya kami la habis Rp 85 juta,” kata Jon, sapaan akrabnya.

Jumlah uang tersebut kemudian dikumpulkan secara kolektif dari kelompok Tumenggung Sikar. Uang itu merupakan hasil kerja bersama, mulai dari berkebun hingga aktivitas harian lainnya.

“Uangnyo itu dari orang rombong Pak Sikar lah,” ucap Jon.

Kondisi Terbaru dan Dugaan Sindikat

Pengungkapan bahwa SAD ternyata menjadi korban penipuan memperkuat dugaan terkait keberadaan jaringan penculikan yang memanfaatkan situasi komunitas adat. Informasi resmi dari pihak kepolisian masih dinantikan untuk memastikan status kasus ini, termasuk keberadaan pelaku, motif, serta keterkaitan dengan sindikat yang lebih luas.

Kasus ini juga memunculkan diskusi publik tentang perlunya perlindungan lebih besar bagi komunitas adat yang kerap terpinggirkan dalam akses pendidikan dan informasi. Sementara itu, cerita kemanusiaan dari SAD yang berupaya melindungi Bilqis menjadi perhatian khusus di tengah maraknya kasus eksploitasi anak.(*)

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version