Bisiknews.com, Jambi – Jenazah diangkut traktor sawit menjadi sorotan nasional setelah video berdurasi 40 detik viral di media sosial, menampilkan prosesi pilu di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi. Kejadian ini terjadi karena kondisi jalan rusak parah yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat atau dua, memaksa warga meminjam alat berat dari perusahaan sawit untuk membawa jenazah ke rumah keluarga.
Peristiwa ini mencerminkan tantangan infrastruktur di daerah pedesaan Jambi, di mana musim hujan sering memperburuk aksesibilitas transportasi.
Video viral traktor sawit jenazah Jambi yang diunggah pada 7 November 2025 telah dibagikan ribuan kali, memicu diskusi tentang urgensi perbaikan jalan Jambi 2025. Menurut data Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi, lebih dari 40% jalan kabupaten di wilayah timur seperti Tanjabtim mengalami kerusakan sedang hingga berat akibat curah hujan tinggi dan lalu lintas kendaraan berat sawit.
Kejadian ini bukan yang pertama; kasus serupa pernah terjadi di daerah lain, di mana warga terpaksa menggunakan traktor untuk urusan darurat medis atau pemakaman.
Kronologi Kejadian Jenazah Diangkut Menggunakan Traktor Sawit
Peristiwa pilu ini bermula pada malam Rabu, 5 November 2025, ketika almarhum Hadong, warga berusia 70 tahun di Kelurahan Kampung Singkep, Kecamatan Muara Sabak Barat, Tanjabtim, Jambi, jatuh sakit. Rencana awal membawanya ke rumah sakit gagal karena hujan deras disertai petir yang membuat jalan semakin sulit dilalui. Keesokan harinya, Kamis 6 November 2025, sekitar pukul 09.00 WIB, Hadong meninggal dunia di rumahnya di Jalan Parit Bengkok.
Warga setempat, yang kesulitan mengangkut jenazah karena jalan berlumpur dan berkubangan, meminta bantuan perusahaan sawit terdekat. Jenazah kemudian diletakkan di bak terbuka traktor sawit, diselimuti kain panjang sederhana, dan diantar ke ujung Parit Bengkok untuk diteruskan ke rumah keluarga di Kampung Laut, Kecamatan Kuala Jambi—jarak sekitar 25 kilometer. Video prosesi ini direkam dan menyebar luas, menyoroti keterbatasan akses di wilayah terpencil.
Penyebab Utama: Jalan Rusak Parah Akibat Hujan dan Lalu Lintas Sawit
Jalan Parit Bengkok, yang merupakan milik Pemerintah Daerah Tanjabtim, telah rusak sejak satu pekan sebelumnya. Hujan lebat selama seminggu terakhir memperburuk kondisi, menciptakan lumpur tebal dan kubangan yang membuat motor maupun mobil tak bisa melintas. Jalan ini berfungsi sebagai akses alternatif warga karena jembatan Rano, rute utama ke ibu kota kabupaten, sedang dalam perbaikan.
- Faktor Cuaca: Curah hujan tinggi di Jambi timur sejak akhir Oktober 2025, menurut BMKG, menyebabkan drainase overload.
- Lalu Lintas Berat: Kendaraan pengangkut tandan buah segar (TBS) sawit sering melebihi muatan, merusak aspal kelas III yang hanya tahan 8 ton.
- Keterlambatan Pemeliharaan: Anggaran perbaikan infrastruktur daerah terbatas, meski Pemprov Jambi telah mengalokasikan Rp 500 miliar untuk jalan kabupaten tahun ini.
Keterangan Warga dan Perusahaan: “Tidak Ada Pilihan Lain”
“Ya jadi memang kebetulan jalan ini tidak bisa dilintasi oleh kendaraan biasa seperti motor dan mobil ya, jadi kami warga minta mobil traktor angkutan sawit milik perusahaan buat antarkan jenazah keluar buat nanti dibawa ke rumah keluarganya buat dimakamkan di sana,” kata Erik warga sekitar kepada wartawan, Sabtu (8/11/2025).
Erik menambahkan bahwa kondisi jalan biasanya masih bisa dilalui meski berlumpur, tapi hujan berkepanjangan membuatnya lumpuh total. Sementara Sugeng, perwakilan perusahaan sawit di Kampung Singkep, menjelaskan bantuan mereka:
“Kami dari pihak perusahaan diminta bantuannya untuk mengantar jenazah ke arah keluar ke ujung Parit Bengkok, arah ke cambang, karena jenazah itu mau dibawa ke Kampung Laut,” kata Sugeng.
Bantuan ini menunjukkan kolaborasi antara warga dan pelaku usaha sawit, meski menimbulkan kontroversi di media sosial tentang martabat prosesi pemakaman.
Dampak Viral: Seruan Perbaikan Infrastruktur di Daerah Pedesaan
Video ini telah memicu reaksi luas, dengan ribuan komentar di platform X dan Instagram menuntut percepatan perbaikan jalan. Sejumlah aktivis lingkungan juga menyoroti dampak industri sawit terhadap infrastruktur lokal, di mana truk overload sering menjadi biang kerok. Pemkab Tanjabtim menyatakan akan menginspeksi lokasi dalam waktu dekat, sementara Pemprov Jambi berjanji tambahan anggaran untuk drainase dan pengaspalan di 2026.
Kasus serupa pernah terjadi di Sulawesi Selatan pada 2021, di mana jenazah diangkut traktor di Bone akibat jalan rusak. Insiden ini menggarisbawahi kebutuhan investasi berkelanjutan pada infrastruktur untuk mendukung akses kesehatan dan pemakaman di daerah terpencil.
Saat Jalan Rusak Hambat Kemanusiaan
Kejadian jenazah diangkut traktor sawit di Tanjabtim menjadi pengingat betapa krusialnya infrastruktur layak bagi masyarakat pinggiran. Pemerintah daerah diharapkan segera bertindak untuk mencegah keulangan serupa, memastikan akses darurat tetap terjaga meski di tengah musim hujan. Warga Jambi berharap perbaikan cepat membawa perubahan nyata bagi kehidupan sehari-hari.(*)
